<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> 
  <rss version="2.0"><channel> 
				<title>RSS SMK N 6 Purworejo</title> 
				<description>website sekolah SMK N 6 Purworejo</description>
				<link>https://smkn6purworejo.sch.id</link> 
				<language>id-id</language><item>
						                <title>MENJAHIT KETEKUNAN, MENOPANG SEKOLAH</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/menjahit-ketekunan-menopang-sekolah</link>
						                <description> 


MENJAHIT KETEKUNAN, MENOPANG SEKOLAH

Kisah Bu Warnidah, di Balik Perjalanan UBET Busana SMK Negeri 6 Purworejo

Oleh: Tim Mading Divisi Wawancara SMK Negeri 6 Purworejo 

(Tata Dinasti Sena, Keisha Dwi Estri, Annisa Nugraheni)

Ada banyak cara untuk membangun sebuah sekolah. Ada yang berdiri di depan kelas dan menyalakan semangat belajar. Ada yang bekerja di balik meja, memastikan administrasi berjalan. Ada pula yang bekerja dengan tangan, ketekunan, dan kesabaran—menghasilkan sesuatu yang kemudian kembali dipersembahkan untuk kemajuan sekolah.

Di SMK Negeri 6 Purworejo, salah satu kisah itu dapat ditemukan dalam perjalanan UBET Busana.

Bagi sebagian orang, UBET mungkin dikenal sebagai unit produksi yang menghasilkan berbagai produk busana. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, UBET memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Ia tumbuh bersama perjalanan sekolah dan menjadi salah satu bagian yang turut menopang perkembangan jurusan Busana, bahkan memberikan kontribusi bagi kebutuhan sekolah.

Di balik perjalanan tersebut terdapat sosok Bu Warnidah, yang akrab disapa Bu Ida, bersama Bu Haryanti. Keduanya merupakan bagian dari orang-orang yang merintis UBET Busana pada masa-masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri.

Kisah ini bukan sekadar tentang menjahit pakaian.

Ini adalah kisah tentang ketekunan, amanah, kerja keras, dan keberanian untuk memulai dari sesuatu yang sederhana.


Datang ketika sekolah masih sangat muda

Perjalanan Bu Warnidah di SMK Negeri 6 Purworejo dimulai pada 1 Maret 2005.

Saat itu, SMK Negeri 6 Purworejo masih berada pada masa awal perjalanannya—baru memasuki tahun pertama, tepatnya semester kedua.

Latar belakang pendidikan Tata Busana yang ditempuhnya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi bekal yang kemudian mempertemukan Bu Warnidah dengan dunia pendidikan dan bidang yang telah menjadi keahliannya.

Namun, tidak pernah terbayangkan bahwa perjalanan pengabdian tersebut kelak akan membawanya menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan sebuah unit produksi yang bernama UBET Busana.


Dari seragam sekolah, lahirlah UBET

Pada awalnya, UBET tidak lahir sebagai sebuah unit produksi dengan konsep besar.

Semuanya bermula dari kebutuhan sekolah.

Ketika tiba masa pembagian seragam siswa, proses pembuatan seragam dilakukan di sekolah. Jumlah pekerjaan yang cukup banyak membuat pekerjaan tersebut tidak mungkin ditangani sendiri. Tenaga karyawan pun mulai dilibatkan untuk membantu menyelesaikan produksi.

Dari aktivitas itulah, kegiatan produksi mulai berkembang.

Awalnya belum ada nama UBET.

Hingga kemudian nama tersebut digunakan, diambil dari bahasa Jawa yang memiliki nuansa makna “sat-set” dalam mencari penghasilan.

Sebuah nama yang sederhana, tetapi seolah menggambarkan semangat orang-orang di dalamnya: bergerak cepat, bekerja keras, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Dari sinilah perjalanan UBET Busana dimulai.


Tidak selalu mudah menjahit sebuah perjuangan

Membangun sesuatu dari nol tentu tidak pernah mudah.

Bu Warnidah masih mengingat berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan produksi.

Salah satunya adalah persoalan waktu.

Ketika tahun ajaran baru tiba, pesanan seragam meningkat dan target produksi harus segera diselesaikan. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu. Namun, pada situasi lain, target tersebut tidak selalu mudah dicapai.

Persoalan juga dapat muncul dari ukuran pakaian.

Pesanan yang dibuat berdasarkan ukuran standar terkadang belum sesuai ketika sampai di tangan pelanggan. Akibatnya, komplain pun muncul.

Bagi sebagian orang, komplain mungkin menjadi sesuatu yang melelahkan.

Namun bagi UBET, komplain justru menjadi bagian dari tanggung jawab.

Barang atau bahan yang tidak sesuai harus segera diganti.

Karena bagi Bu Warnidah, mempertahankan kepercayaan pelanggan tidak dapat dilakukan hanya dengan menghasilkan produk. Pelayanan dan tanggung jawab setelah produk diterima juga menjadi bagian penting dari pekerjaan.


“Bekerja keras dan memberi pelayanan yang terbaik.”


Kalimat sederhana itulah yang menjadi salah satu kunci yang ia pegang dalam perjalanan UBET Busana.


Bekerja dengan tangan, mengelola dengan amanah

Ada bagian dari UBET Busana yang mungkin tidak banyak terlihat oleh orang lain.

Bukan tentang mesin jahit.
Bukan tentang pola.
Bukan pula tentang kain yang dipotong dan dijahit.

Melainkan tentang angka-angka.

Bu Warnidah memiliki peran dalam pengelolaan keuangan UBET. Pekerjaan yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab besar.

Baginya, uang yang dikelola bukanlah milik pribadi. Karena itu, semuanya harus dilakukan dengan penuh amanah.

Pemasukan dicatat.
Pengeluaran diperiksa.
Catatan dicek kembali.

Semua dilakukan agar tidak ada sesuatu yang terlupa dan setiap rupiah dapat dipertanggungjawabkan.


“Berusaha untuk teliti dan berusaha untuk amanah sebab memegang tanggung jawab pada uang yang bukan milik pribadi.”


Prinsip tersebut menunjukkan bahwa bagi Bu Warnidah, bekerja bukan hanya tentang mendapatkan hasil.

Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dijaga.


Ketika hasil jahitan kembali untuk sekolah

Mungkin inilah bagian yang membuat perjalanan UBET Busana menjadi begitu berarti.

UBET tidak hanya menghasilkan pemasukan untuk dirinya sendiri.

Sebagian hasil yang diperoleh dapat kembali digunakan untuk membantu perkembangan jurusan Busana.

Bu Warnidah menceritakan bagaimana pemasukan dari UBET dapat membantu memenuhi kebutuhan jurusan, termasuk membeli fasilitas seperti mesin obras ketika dana dari sekolah belum mencukupi.

Kontribusinya bahkan pernah membantu renovasi gedung karena UBET memiliki persentase kontribusi biaya yang cukup besar.

UBET juga pernah mampu menyediakan seragam dengan menggunakan modal dari unit produksi sendiri, bukan semata-mata mengandalkan dana sekolah.

Bahkan, harga produk tetap diupayakan terjangkau dengan kualitas bahan yang baik.

Pada titik inilah kita dapat melihat bahwa UBET Busana bukan hanya sebuah tempat untuk memproduksi pakaian.

Ia menjadi salah satu bagian yang ikut menopang kehidupan sekolah.

Apa yang dihasilkan dari kain, benang, mesin, dan kerja keras, pada akhirnya kembali menjadi fasilitas, kebutuhan, dan kesempatan belajar bagi warga sekolah.


Dari menjahit pakaian, menuju menjahit karakter

Bagi Bu Warnidah, UBET juga bukan sekadar tempat bekerja.

Di dalamnya terdapat siswa yang belajar.

Dan bagi siswa, pengalaman berada di lingkungan kerja memberikan pelajaran yang tidak selalu ditemukan melalui buku.

Bu Warnidah ingin siswa memahami arti kejujuran, ketertiban, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Mereka harus belajar bekerja dengan sungguh-sungguh.

Tidak bermalas-malasan.

Tidak sibuk dengan ponsel ketika pekerjaan sedang menunggu.

Sebab dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang bisa melakukan sesuatu.

Dunia kerja membutuhkan seseorang yang mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Menurut Bu Warnidah, siswa Busana juga harus memiliki kompetensi dasar seperti kemampuan menjahit, menguasai pola, memahami desain, serta memiliki keterampilan lain yang mendukung bidang fashion.

Namun, keterampilan tersebut harus berjalan bersama karakter.

Skill tanpa tanggung jawab akan kehilangan makna.


“Jangan takut gagal atau rugi.”

Setelah bertahun-tahun mendampingi perjalanan UBET Busana, Bu Warnidah memiliki pesan yang sangat kuat untuk generasi muda SMK Negeri 6 Purworejo.

Menurutnya, belajar tidak boleh berhenti hanya karena seseorang telah meninggalkan bangku sekolah.

Sekolah adalah jalan pembuka.

Setelah itu, siswa harus berani mengembangkan dirinya di tempat lain—baik ketika masih bersekolah maupun setelah lulus.

Ada pengalaman yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang berani mencoba.

Ada pelajaran yang justru lahir dari kegagalan.

Dan ada keberhasilan yang hanya dapat ditemukan setelah seseorang berkali-kali melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya.


“Jangan takut gagal atau rugi. Coba dan berusaha. Dari hal itu dapat menjadi pengalaman dan evaluasi supaya ke depannya tidak menjadi kesalahan lagi.”


Pesan itu kemudian sampai pada satu hal yang sangat penting:


“Kalau kita sudah memiliki keterampilan, jangan disia-siakan. Suatu saat nanti itu akan menjadi senjata kita dalam kehidupan, bahkan bisa untuk bertahan hidup.”


Mungkin inilah salah satu warisan terbesar yang ingin Bu Warnidah tinggalkan kepada siswa.

Bukan hanya keterampilan menjahit.

Tetapi keyakinan bahwa keterampilan yang dimiliki seseorang dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan.


UBET hari ini, harapan untuk hari esok

Perjalanan UBET Busana belum selesai.

Bu Warnidah berharap UBET dapat terus berkembang, menjadi tempat praktik dan PKL bagi siswa, sekaligus memberikan kontribusi lebih besar dalam menambah fasilitas jurusan Busana.

Harapan itu terdengar sederhana.

Namun jika melihat perjalanan UBET sejak masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri, harapan tersebut menyimpan makna yang jauh lebih besar.

Dari sebuah kebutuhan menjahit seragam, UBET tumbuh.

Dari keterbatasan tenaga, lahir kerja sama.

Dari komplain, lahir evaluasi.

Dari keuntungan, lahir kontribusi.

Dan dari tempat produksi, lahir ruang belajar bagi generasi muda.


Sebuah sejarah yang dijahit dengan ketekunan

Hari ini, mungkin banyak siswa menikmati fasilitas sekolah tanpa pernah mengetahui siapa yang ikut memperjuangkannya.

Mungkin ada yang menggunakan ruang belajar tanpa tahu bahwa sebagian proses pengembangannya pernah ditopang oleh sebuah unit produksi.

Mungkin ada yang belajar menjahit tanpa menyadari bahwa sebelum mereka datang, telah ada orang-orang yang terlebih dahulu membangun jalan.

UBET Busana adalah salah satu bagian dari cerita tersebut.

Dan di baliknya ada Bu Warnidah bersama Bu Haryanti, yang pada masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri ikut merintis sebuah unit produksi dari sesuatu yang sederhana.

Mereka menjahit bukan hanya kain.

Mereka menjahit ketekunan.

Mereka menjahit tanggung jawab.

Mereka menjahit kemandirian.

Dan pada akhirnya, hasil jahitan itu menjadi bagian dari perjalanan sebuah sekolah.

Sebab terkadang, orang-orang yang paling berjasa dalam membangun sebuah institusi bukanlah mereka yang paling sering terlihat di depan.

Melainkan mereka yang dengan tekun bekerja di belakang layar, memastikan roda kehidupan sekolah terus bergerak.

Dan UBET Busana adalah salah satu bukti bahwa sebuah karya yang dikerjakan dengan ketekunan dapat tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar produk.


WAWANCARA EKSKLUSIF

Mading SMK Negeri 6 Purworejo — Divisi Wawancara

 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Mengenal Lebih Dekat Ibu Noor Ika Lailya</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/mengenal-lebih-dekat-ibu-noor-ika-lailya</link>
						                <description> 

 

Membangun Sekolah dengan Hati, Menyiapkan Generasi yang Siap Menghadapi Masa Depan

Oleh Tim Mading SMK Negeri 6 Purworejo

Setiap sekolah memiliki cerita baru ketika menyambut hadirnya seorang pemimpin baru. Begitu pula yang dirasakan keluarga besar SMK Negeri 6 Purworejo saat menyambut Ibu Noor Ika Lailya sebagai kepala sekolah. Sosok yang ramah, komunikatif, dan penuh semangat ini membawa pengalaman panjang di dunia pendidikan sekaligus harapan besar untuk melanjutkan prestasi yang telah diraih sekolah.

Dalam wawancara khusus bersama Tim Mading, Ibu Noor Ika Lailya tidak hanya bercerita tentang perjalanan kariernya, tetapi juga membagikan pandangan mengenai kepemimpinan, pendidikan, serta harapannya bagi seluruh warga SMK Negeri 6 Purworejo.


"Saya bersyukur dapat bergabung dalam keluarga besar SMK Negeri 6 Purworejo. Ini adalah anugerah sekaligus amanah yang memberikan semangat baru bagi saya untuk berjalan bersama seluruh warga sekolah dalam mewujudkan visi dan menghadapi berbagai tantangan pendidikan."


Mengabdi Selama 17 Tahun Sebelum Menjadi Kepala Sekolah

Menjadi kepala sekolah bukanlah sesuatu yang diraih secara instan. Sebelum memimpin SMK Negeri 6 Purworejo, Ibu Noor Ika Lailya telah mengabdikan diri selama 17 tahun di SMK Negeri 1 Gombong, Kabupaten Kebumen.

Selama masa pengabdiannya, beliau menangani berbagai bidang penting, mulai dari Praktik Kerja Lapangan (PKL), penyelenggaraan berbagai kegiatan sekolah, penguatan karakter peserta didik, peningkatan kompetensi guru, hingga pengembangan kurikulum berbasis industri sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum.

Dedikasinya juga meluas di tingkat nasional. Beliau dipercaya menjadi instruktur nasional bidang pembelajaran Bahasa Inggris dan pengembangan kurikulum, menjadi Guru Penggerak Angkatan 6 Tahun 2023, serta melanjutkan perannya sebagai Pengajar Praktik dalam Program Guru Penggerak.

Perjalanan tersebut mengantarkan beliau mengikuti seleksi kepala sekolah pada tahun 2024. Setelah melalui proses administrasi, Computer Assisted Test (CAT), wawancara, hingga Focus Group Discussion (FGD), beliau dinyatakan lulus pada tahun 2025 dan resmi dilantik sebagai Kepala SMK Negeri 6 Purworejo pada 3 Maret 2026.


"Saya menyukai tantangan. Setiap tantangan adalah kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik."


Kesan Pertama yang Menguatkan Optimisme

Hari-hari pertama bertugas di SMK Negeri 6 Purworejo memberikan kesan yang mendalam bagi beliau.

Yang paling dirasakan adalah budaya kekeluargaan yang begitu kuat di antara guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Menurut beliau, suasana yang hangat tersebut merupakan modal penting untuk membangun sekolah yang semakin maju.

Beliau juga melihat siswa-siswi SMK Negeri 6 Purworejo sebagai generasi yang aktif, ceria, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Energi positif itu membuatnya semakin optimistis dalam menjalankan amanah sebagai kepala sekolah.

Sekolah yang Memiliki Keunggulan dan Kebanggaan

Bagi Ibu Noor Ika Lailya, SMK Negeri 6 Purworejo memiliki banyak keunggulan yang patut dibanggakan.

Salah satunya adalah predikat sebagai Sekolah Ambassador PT Toyota Astra Motor, sebuah kepercayaan yang menunjukkan bahwa kualitas sekolah telah mendapat pengakuan dari dunia industri.

Menurut beliau, predikat tersebut semakin bermakna karena didukung oleh berbagai prestasi yang berhasil diraih sekolah, baik pada ajang Lomba Kompetensi Siswa maupun kompetisi akademik dan nonakademik lainnya.


"Kepercayaan dari dunia industri adalah sebuah kebanggaan. Tugas kita bersama adalah menjaga dan terus meningkatkan kualitas agar kepercayaan itu tetap terpelihara."


Sosok yang Gemar Belajar dan Berpetualang

Di balik kesibukannya sebagai kepala sekolah, Ibu Noor Ika Lailya ternyata memiliki hobi yang cukup unik, yaitu berpetualang.

Bagi beliau, petualangan bukan hanya tentang mengunjungi tempat baru, tetapi juga menikmati pengalaman baru, membaca buku, mengamati berbagai situasi, berdiskusi dengan banyak orang, dan belajar dari lingkungan yang berbeda.

Kebiasaan itulah yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbuka terhadap perubahan dan senang mencari solusi dari setiap tantangan.

Sekolah Adalah Rumah Kedua

Salah satu pesan yang paling ditekankan Ibu Noor Ika Lailya adalah pentingnya membangun komunikasi yang hangat di lingkungan sekolah.

Beliau berharap para siswa tidak merasa sungkan untuk menyampaikan ide, aspirasi, maupun berbagai persoalan yang dihadapi. Menurutnya, guru dan tenaga kependidikan adalah orang tua kedua selama siswa berada di sekolah.


"Tidak perlu sungkan untuk berdiskusi dengan kami. Sekolah adalah keluarga. Ketika ada ide, harapan, atau kesulitan, mari kita komunikasikan dengan baik agar kita dapat mencari solusi bersama."


Beliau juga mendorong peserta didik memanfaatkan OSIS, MPK, maupun organisasi sekolah lainnya sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi secara positif.

Membangun Karakter, Menyiapkan Masa Depan

Dalam waktu dekat, beberapa program akan terus diperkuat di bawah kepemimpinan beliau.

Program KUSUMA (Kewirausahaan untuk Semua) diarahkan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha peserta didik.

Program Smeksik ASRI (SMK Negeri 6 Purworejo Aman, Sehat, Rapi, Indah) menjadi gerakan bersama dalam menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengurangan serta pemilahan sampah plastik.

Sementara itu, program Public Speaking yang menjadi pembiasaan setiap hari Selasa akan terus dikembangkan dan dipadukan dengan program literasi mingguan.

Beliau meyakini bahwa kemampuan berbicara di depan umum, berpikir kritis, serta memiliki budaya membaca akan menjadi bekal penting bagi lulusan SMK ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Menutup wawancara, Ibu Noor Ika Lailya menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat menginspirasi.

Beliau mengajak seluruh siswa untuk terus meningkatkan ilmu pengetahuan, memperkuat karakter, mengembangkan kompetensi, dan menjadi pribadi yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Mulailah menentukan tujuan hidup sejak sekarang dan berusahalah sebaik mungkin untuk meraihnya. Hasil terbaik selalu lahir dari usaha yang terbaik."


Beliau juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya pada prestasi yang diraih, tetapi juga pada manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.


"Manusia terbaik adalah mereka yang membawa manfaat bagi sesama. Mari bersama-sama menjadikan SMK Negeri 6 Purworejo sebagai kebanggaan kita dengan terus menghidupkan semangat Kom&#39;paq: Kompeten, Etis, Pembelajar, dan Taqwa."


Bersama Melangkah Menuju Masa Depan

Kehadiran Ibu Noor Ika Lailya membawa harapan baru bagi SMK Negeri 6 Purworejo. Dengan pengalaman, semangat kolaborasi, dan kepedulian terhadap perkembangan peserta didik, beliau ingin menjadikan sekolah sebagai rumah yang nyaman untuk belajar, bertumbuh, dan meraih cita-cita.

Kini, perjalanan baru itu telah dimulai. Bersama seluruh warga sekolah, beliau mengajak semua pihak melangkah dalam satu tujuan: mewujudkan SMK Negeri 6 Purworejo sebagai sekolah vokasi yang unggul, berkarakter, dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
</description>
					                </item><item>
						                <title>\Ketika Bel Berbunyi untuk Terakhir Kalinya\</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/ketika-bel-berbunyi-untuk-terakhir-kalinya</link>
						                <description> 

"Guru boleh memasuki masa purna tugas tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus hidup dalam diri murid-muridnya."

Oleh Tim Wawancara Mading SMK Negeri 6 Purworejo
Mutia Anggraeni  • Kharisma Putri Z • Syiva Permata (XI Busana 1)


Jumat, 31 Juli 2026 menjadi hari yang penuh haru bagi keluarga besar SMK Negeri 6 Purworejo. Setelah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri sebagai pendidik, Ibu Marsini resmi mengakhiri masa tugasnya. Beliau pertama kali menginjakkan kaki sebagai guru pada 2 Januari 1991. Sejak saat itu, ribuan siswa telah beliau temui, dididik, dibimbing, bahkan ditegur demi menjadi pribadi yang lebih baik.

Bagi banyak alumni, nama Ibu Marsini mungkin identik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun bagi mereka yang pernah merasakan didikannya secara langsung, beliau adalah guru yang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tata bahasa dan kosakata. Beliau mengajarkan tentang disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan bagaimana menjadi manusia yang berkarakter.

Saat ditanya mengenai hal yang paling beliau syukuri selama mengajar, jawabannya begitu sederhana namun menyentuh.

"Saya berhasil mengajarkan kedisiplinan kepada siswa, terutama dalam hal ibadah."

Kalimat itu menggambarkan siapa sebenarnya Ibu Marsini. Baginya, keberhasilan seorang guru bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan baik dalam kehidupan para siswanya.

Kenangan yang paling membekas justru bukan tentang prestasi atau penghargaan. Yang paling beliau ingat adalah wajah-wajah siswa yang pernah berbuat nakal, terlebih ketika ada yang tidak jujur kepada gurunya. Meski telah lama lulus, nama mereka masih melekat dalam ingatan. Bukan karena kebencian, melainkan karena seorang guru selalu menyimpan harapan agar setiap anak didiknya kelak menjadi pribadi yang lebih baik.

Selama menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ibu Marsini dikenal sebagai sosok yang tegas. Namun di balik ketegasan itu tersimpan kasih sayang yang besar kepada setiap siswa.

Beliau meyakini bahwa disiplin dan tanggung jawab adalah dua fondasi utama pendidikan karakter. Menurutnya, ketika seorang siswa memiliki kedua nilai tersebut, maka berbagai kebaikan lainnya akan tumbuh dengan sendirinya.

"Anak yang rajin, disiplin, dan bertanggung jawab itu bagaikan sebuah sinar yang memancarkan cahayanya sendiri."

Ungkapan itu menjadi filosofi yang beliau pegang sepanjang menjadi pendidik.

Ada pula kisah sederhana yang menjadi kebanggaan terbesar dalam hidupnya sebagai wali kelas. Setiap awal tahun ajaran, beliau selalu menanyakan kepada siswa siapa yang sudah menjalankan salat lima waktu secara tertib. Bagi yang belum, beliau memberikan perhatian dan pendampingan.

Perlahan tetapi pasti, perubahan itu terjadi. Hingga akhirnya seluruh siswa di kelas yang beliau dampingi mampu melaksanakan salat lima waktu dengan tertib.

Bagi sebagian orang, pencapaian itu mungkin tidak terlihat dalam bentuk piagam atau piala. Namun bagi Ibu Marsini, keberhasilan membimbing siswa menjalankan ibadah adalah kebahagiaan yang nilainya jauh melampaui materi.

Perjalanan mengajar selama lebih dari 35 tahun juga membuat beliau menyaksikan perubahan zaman. Saat mulai mengajar pada tahun 1991, siswa belum mengenal dunia digital. Kini, telepon genggam dan internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beliau melihat perkembangan teknologi sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi membuka banyak peluang, tetapi di sisi lain juga menjadi tantangan apabila tidak digunakan dengan bijaksana, terutama ketika mengganggu proses belajar.

Kini, setelah memasuki masa purna tugas, Ibu Marsini memiliki harapan yang sederhana namun penuh makna. Beliau ingin menikmati hari-harinya dengan sehat, memperbanyak mengaji, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.

Sebelum menutup wawancara, beliau menyampaikan pesan kepada guru-guru muda agar terus mendidik dengan kreativitas, kesabaran, kedisiplinan, dan keteladanan. Menurut beliau, tantangan pendidikan saat ini memang berbeda, tetapi tujuan seorang guru tetap sama, yaitu mengantarkan siswa meraih cita-citanya.

Kepada para alumni, beliau juga berpesan agar nilai-nilai yang telah dipelajari di SMK Negeri 6 Purworejo—mulai dari Kaizen, budaya 5S, tata tertib, hingga pendidikan karakter—benar-benar diterapkan di dunia kerja. Sebab bekal yang diperoleh di sekolah akan menjadi penentu keberhasilan di masa depan.

Di penghujung wawancara, doa beliau mengalir tulus untuk almamater tercinta.

"Semoga SMK Negeri 6 Purworejo semakin jaya, semakin berkualitas, dan semakin dipercaya masyarakat."

Hari itu memang menjadi akhir perjalanan beliau sebagai seorang guru di sekolah. Namun sesungguhnya, tidak ada kata pensiun bagi nilai-nilai yang telah beliau tanamkan.

Selama masih ada murid yang datang tepat waktu, bertanggung jawab atas tugasnya, menjaga kejujuran, menghormati gurunya, menjalankan ibadah dengan baik, dan mengamalkan budaya kerja yang telah dipelajari, selama itu pula jejak Ibu Marsini akan terus hidup.

Sebab seorang guru sejati tidak dikenang karena lamanya mengajar, melainkan karena kehidupan yang berhasil ia ubah.

Terima kasih atas 35 tahun lebih pengabdian, Ibu Marsini.

Selamat memasuki masa purna tugas.

Semoga setiap ilmu yang telah Ibu ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa henti.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Laporan Rekapitulasi Realisasi Penggunaan Dana BOS Reguler Tahap 1 Tahun 2026 SMKN 6 Purworejo</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/laporan-rekapitulasi-realisasi-penggunaan-dana-bos-reguler-tahap-1-tahun-2026-smkn-6-purworejo</link>
						                <description>
</description>
					                </item><item>
						                <title>Warisan Terakhir Pak Hartoyo:</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/warisan-terakhir-pak-hartoyo</link>
						                <description>Di balik lahirnya Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo, tersimpan sebuah gagasan besar yang ingin diwariskan jauh melampaui masa pengabdian.

Oleh: Zuraida Chasna & Kharisma Wahyu
Tim Jurnalistik Mading SMK Negeri 6 Purworejo

PURWOREJO — Sebuah program besar tidak pernah lahir begitu saja. Di baliknya selalu ada kegelisahan, harapan, dan sosok yang berani mengambil langkah pertama. Hal itulah yang tergambar dari lahirnya Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo, sebuah program pembentukan karakter yang kini menjadi identitas sekolah.

Di balik program tersebut berdiri sosok Hartoyo, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, yang merancang, mengawal, sekaligus memastikan gagasan tersebut benar-benar menjadi budaya di lingkungan sekolah. Menjelang masa purna tugasnya, beliau tidak ingin dikenang karena jabatan yang pernah diemban, melainkan melalui sebuah warisan yang akan terus hidup dan berkembang pada generasi-generasi berikutnya.

Berawal dari Keprihatinan Pascapandemi

Gagasan mengenai ketarunaan lahir setelah Pak Hartoyo mengamati perubahan perilaku peserta didik pascapandemi COVID-19. Selama pembelajaran jarak jauh, aktivitas fisik siswa berkurang, sementara penggunaan telepon genggam meningkat. Kebiasaan disiplin yang sebelumnya mulai terbentuk pun perlahan memudar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah. Menurut Pak Hartoyo, sekolah tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik atau keterampilan kejuruan. Karakter yang kuat juga harus dibangun agar mereka siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.


"Kami ingin siswa memiliki fisik yang kuat sekaligus membentuk karakter mereka, supaya kedisiplinan dan rasa tanggung jawabnya juga muncul untuk ke depannya," tutur Pak Hartoyo.


Dari keprihatinan itulah lahir sebuah gagasan yang kemudian berkembang menjadi Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo.

Belajar dari Sekolah Lain

Keinginan membangun karakter secara lebih terarah mendorong Pak Hartoyo bersama tim sekolah melakukan studi banding ke sejumlah sekolah yang telah lebih dahulu menerapkan sistem ketarunaan.

Melalui kunjungan tersebut, mereka mempelajari bagaimana pembinaan karakter dapat dilakukan secara sistematis melalui latihan kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, serta kerja sama. Kolaborasi dengan TNI dalam pembinaan karakter juga menjadi salah satu inspirasi penting dalam menyusun konsep ketarunaan yang sesuai dengan kebutuhan SMK Negeri 6 Purworejo.

Namun, mewujudkan sebuah program tentu tidak semudah menyampaikan gagasan. Dibutuhkan proses panjang mulai dari penyusunan konsep, pengajuan anggaran, hingga berbagai persiapan teknis lainnya. Setelah seluruh tahapan berhasil dilalui, Program Ketarunaan resmi diterapkan pada tahun 2025. Kini, pada tahun 2026, program tersebut telah memasuki angkatan kedua.

Membentuk Karakter, Bukan Mendidik Militer

Masih banyak masyarakat yang menganggap ketarunaan identik dengan pendidikan militer. Menurut Pak Hartoyo, anggapan tersebut perlu diluruskan.

Di SMK Negeri 6 Purworejo, ketarunaan bukanlah program militerisasi, melainkan program pembentukan karakter. Latihan fisik hanyalah salah satu sarana untuk melatih kedisiplinan, bukan tujuan utama.

Nilai-nilai yang ingin ditanamkan jauh lebih luas, meliputi integritas, etika, tanggung jawab, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, komunikasi, hingga keberanian mengambil keputusan. Seluruhnya merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan ketika lulusan memasuki dunia industri maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pembiasaan yang Menjadi Budaya

Dalam pelaksanaannya, peserta didik mengikuti berbagai kegiatan pembinaan karakter, seperti latihan baris-berbaris, senam kebugaran, latihan kepemimpinan, kerja sama tim, pendidikan etika dan tata krama, serta pembiasaan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah meyakini bahwa karakter tidak dibentuk melalui ceramah, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi budaya.

Perubahan yang Mulai Terlihat

Sebagai program yang masih relatif baru, pelaksanaan ketarunaan tentu tidak lepas dari tantangan. Pada awal penerapannya, sebagian siswa merasa keberatan karena harus datang lebih pagi dan mengikuti aktivitas fisik secara rutin.

Namun, seiring berjalannya waktu, manfaat program mulai terlihat secara nyata. Penampilan siswa menjadi lebih rapi. Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) semakin berkembang. Guru juga merasakan bahwa siswa lebih mudah diarahkan, lebih berani melakukan hal-hal positif, serta menunjukkan kedisiplinan yang semakin baik dalam kehidupan sekolah.

Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa pembentukan karakter memang membutuhkan proses, tetapi hasilnya dapat dirasakan oleh seluruh warga sekolah.

Tantangan yang Harus Dijaga Bersama

Di balik berbagai keberhasilan tersebut, tantangan tetap ada. Penyesuaian waktu menjadi salah satu kendala utama karena seluruh warga sekolah harus memulai aktivitas lebih awal untuk mengikuti apel pagi dan rangkaian kegiatan ketarunaan.

Meski demikian, semangat membangun budaya disiplin terus dijaga. Seluruh warga sekolah menyadari bahwa keteladanan dan konsistensi merupakan kunci utama dalam membentuk karakter peserta didik.

Warisan yang Ingin Terus Hidup

Menjelang masa purna tugasnya, Pak Hartoyo tidak berbicara mengenai prestasi pribadi ataupun penghargaan yang pernah diraih. Beliau justru berharap Program Ketarunaan tetap berjalan meskipun dirinya sudah tidak lagi mengabdi di sekolah.


"Harapan saya, karena tahun depan saya sudah purna tugas, saya ingin meninggalkan program ini agar bisa diteruskan oleh guru-guru yang lain. Ketika saya sudah tidak ada di sini, kegiatan ini masih tetap berjalan sehingga pembentukan karakter anak-anak tetap bisa dilakukan," ungkap beliau.


Harapan tersebut memperlihatkan bahwa Program Ketarunaan bukan sekadar agenda sekolah, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda.

Mewariskan Nilai, Bukan Sekadar Program

Melalui Program Ketarunaan, SMK Negeri 6 Purworejo terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang keahlian, tetapi juga berintegritas, disiplin, beretika, dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Sejalan dengan semangat Kom&#39;paq (Kompeten, Etis, Pembelajar, dan Taqwa), sekolah berharap setiap lulusan mampu menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia kerja, pendidikan tinggi, maupun kehidupan bermasyarakat.

Program Ketarunaan mungkin lahir dari gagasan satu orang, tetapi keberlanjutannya akan ditentukan oleh seluruh warga sekolah. Itulah warisan sesungguhnya yang ingin ditinggalkan Pak Hartoyo—bukan sekadar sebuah program, melainkan budaya yang terus membentuk generasi demi generasi.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Kegiatan sekolah</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/kegiatan-sekolah</link>
						                <description>Purworejo, 17 Juli 2026 – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai hari terakhir rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Negeri 6 Purworejo. Kegiatan ditutup dengan demonstrasi berbagai ekstrakurikuler (ekskul) yang menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat, minat, serta karakter di luar kegiatan pembelajaran di kelas.

Bertempat di lapangan sekolah, setiap ekstrakurikuler menampilkan pertunjukan terbaiknya di hadapan seluruh peserta didik baru. Beragam penampilan yang disuguhkan berhasil memukau penonton dan mendapat sambutan meriah. Melalui demonstrasi ini, siswa baru dapat mengenal lebih dekat berbagai kegiatan yang dapat mereka ikuti selama menempuh pendidikan di SMK Negeri 6 Purworejo.

SMK Negeri 6 Purworejo memiliki beragam pilihan ekstrakurikuler yang terbagi menjadi ekskul internal dan ekskul eksternal. Ekstrakurikuler internal meliputi Pramuka, Patroli Keamanan Sekolah (PKS), Palang Merah Remaja (PMR), Bola Voli, Majalah Dinding (Mading), Broadcasting Sight Media, Rohani Islam (Rohis), dan Rebana. Sementara itu, ekstrakurikuler eksternal yang bekerja sama dengan pelatih dari luar sekolah antara lain Pencak Silat, Tinju, Taekwondo, serta Rebana.

Setelah seluruh penampilan selesai, peserta didik baru dipersilakan mengunjungi stan masing-masing ekstrakurikuler yang telah disiapkan di sepanjang tepi lapangan sekolah. Di setiap stan, para pengurus dan pembina memberikan informasi mengenai program kerja, jadwal latihan, hingga prestasi yang telah diraih. Momen ini dimanfaatkan oleh para siswa untuk bertanya secara langsung sekaligus mendaftarkan diri pada ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Antusiasme peserta didik terlihat dari ramainya stan pendaftaran yang dipenuhi calon anggota baru. Banyak siswa tampak berdiskusi dengan kakak kelas sebelum menentukan pilihan, menunjukkan semangat mereka untuk aktif berorganisasi dan mengembangkan potensi diri sejak awal menjadi bagian dari keluarga besar SMK Negeri 6 Purworejo.

Melalui kegiatan demonstrasi ekstrakurikuler ini, sekolah berharap setiap peserta didik tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengasah keterampilan, membangun jiwa kepemimpinan, meningkatkan kerja sama, serta menorehkan prestasi melalui berbagai kegiatan positif di sekolah.

Selamat bergabung dan selamat berproses bersama ekstrakurikuler pilihan. Mari tumbuh menjadi peserta didik SMK Negeri 6 Purworejo yang Kom&#39;paq: Kompeten, Etis, Pembelajar, dan Taqwa.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Tiga Juara Umum, Tiga Kisah Inspiratif</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/tiga-juara-umum-tiga-kisah-inspiratif</link>
						                <description>Purworejo – Prestasi tidak lahir dalam sekejap. Di balik setiap pencapaian, terdapat kerja keras, doa, ketekunan, serta dukungan dari keluarga dan para guru. Semangat itulah yang tercermin dalam sosok tiga Juara Umum Program Keahlian SMK Negeri 6 Purworejo Tahun Ajaran 2025/2026, yaitu Farid Fahreza dari Program Keahlian Teknik Otomotif, Aldhinda dari Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman, serta Siti Nur Aflah dari Program Keahlian Busana.
Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi tersebut, SMK Negeri 6 Purworejo memberikan penghargaan kepada para juara umum beserta orang tua mereka. Momen ini menjadi bentuk penghormatan kepada siswa yang telah menunjukkan dedikasi selama menempuh pendidikan sekaligus penghargaan kepada keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungan.


Farid Fahreza: Tekun Belajar Mengantarkanku Ke Bangku Perguruan Tinggi Negeri
Keberhasilan menjadi Juara Umum Teknik Otomotif semakin lengkap setelah Farid Fahreza dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026 di Program Studi Teknik Otomotif Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Farid mengaku sangat bersyukur dapat mempersembahkan prestasi bagi orang tua dan sekolah.
"Rasanya sangat senang bisa membanggakan orang tua dan SMK Negeri 6 Purworejo," ungkapnya.
Menurut Farid, tantangan terbesar selama belajar adalah ketika menghadapi banyak tugas yang membutuhkan waktu dan tenaga lebih. Namun, kecintaannya terhadap dunia otomotif membuat semua proses tersebut terasa menyenangkan.
Sejak duduk di kelas X, Farid telah menaruh minat besar pada bidang otomotif. Ia selalu berusaha fokus saat mengikuti pembelajaran di kelas, kemudian kembali mempelajari materi melalui YouTube maupun berbagai media pembelajaran lainnya ketika berada di rumah.
Selain mempersiapkan diri mengikuti SNBT, Farid juga aktif mencari berbagai peluang masa depan dengan mendaftar ke beberapa perguruan tinggi dan memantau informasi lowongan kerja melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) sekolah.
Ibunda Farid mengaku sangat bahagia atas keberhasilan putranya. Baginya, kebiasaan belajar dan kegemaran membaca buku menjadi salah satu modal utama yang mengantarkan Farid meraih prestasi.
"Saya selalu mendukung, mendoakan, dan berharap semoga cita-citanya tercapai," tutur sang ibu.

Aldhinda: Broadcasting Membentuk Percaya Diri dan Membuka Jalan Karier

Juara Umum Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman, Aldhinda, tidak dapat hadir dalam acara penghargaan karena sedang menjalani training kerja di Kota Semarang. Penghargaan diterima oleh sang ibu yang tampak penuh haru dan bangga.

Menurut sang ibu, keberhasilan Aldhinda merupakan anugerah yang patut disyukuri.

"Alhamdulillah, ini rezeki dari Allah, berkat dukungan bapak ibu guru dan teman-temannya," ujarnya.

Ia mengaku tidak pernah membayangkan putrinya akan meraih penghargaan tersebut. Baginya, yang terpenting selama ini hanyalah membiasakan anak untuk tekun belajar dan percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Salah satu perubahan terbesar yang dirasakan keluarga adalah perkembangan karakter Aldhinda setelah menempuh pendidikan di Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman.

"Dulu anaknya cukup pendiam. Setelah masuk Broadcasting, Alhamdulillah menjadi lebih ceria dan lebih percaya diri. Pengaruhnya sangat positif," ungkap sang ibu.

Sebagai orang tua, ia memilih memberikan kebebasan kepada putrinya untuk menentukan masa depan, baik melanjutkan pendidikan maupun berkarier. Dukungan dan doa menjadi bekal utama yang selalu diberikan.

Ia juga berpesan kepada para orang tua agar tidak memaksakan kehendak kepada anak karena setiap anak memiliki bakat dan impian yang berbeda.

Siti Nur Aflah: Konsistensi Mengantarkan Menjadi Juara Umum Busana

Prestasi membanggakan juga diraih oleh Siti Nur Aflah, Juara Umum Program Keahlian Busana. Sebelumnya, Aflah juga berhasil meraih Juara II Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Bidang Fashion Technology Tingkat Kabupaten Purworejo.

Aflah mengaku sangat bersyukur atas pencapaiannya.

"Saya merasa sangat senang dan bangga menjadi peringkat pertama di Jurusan Busana. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya," katanya.

Selama mengikuti pembelajaran maupun persiapan LKS, tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketika mengerjakan pembuatan jas. Beberapa kali ia mengalami kesalahan dalam proses menjahit sehingga harus mengulang pekerjaannya. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk ketelitian dan ketekunan dalam berkarya.

Dalam belajar, Aflah tidak memiliki metode yang rumit. Ia membiasakan diri mempelajari materi sebelum pelajaran dimulai dan kembali mengulas materi menjelang ujian. Bahkan, ia sering bangun pada pukul tiga hingga empat pagi untuk belajar.

Karya yang paling dibanggakan selama belajar di Jurusan Busana adalah jas dan kebaya hasil rancangannya sendiri. Ke depan, Aflah bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan menjadi seorang guru.

Kepada adik-adik kelasnya, ia berpesan agar selalu konsisten dalam belajar.

"Teruslah rajin belajar dan jangan memaksakan diri jika sudah lelah. Kunci dari belajar adalah konsisten," pesannya.

Sang ibu mengaku terharu sekaligus bersyukur atas prestasi yang diraih putrinya. Menurutnya, Aflah dikenal sebagai anak yang rajin membantu orang tua dan selalu memahami kondisi keluarga.

"Saya selalu memberikan doa dan mendukung apa pun cita-cita yang diinginkannya," tutur sang ibu.

Prestasi yang Lahir dari Sinergi Sekolah dan Keluarga
Keberhasilan Farid Fahreza, Aldhinda, dan Siti Nur Aflah menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya dibangun melalui kemampuan akademik dan keterampilan, tetapi juga lahir dari ketekunan, disiplin, doa, dukungan keluarga, serta bimbingan para guru.
SMK Negeri 6 Purworejo terus berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang mendorong peserta didik untuk berkembang sesuai potensi, karakter, dan minatnya. Setiap jurusan memiliki ruang bagi siswa untuk berprestasi, baik di bidang akademik, kompetensi keahlian, maupun pengembangan karakter.
Semoga kisah inspiratif ketiga juara umum ini menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik SMK Negeri 6 Purworejo untuk terus belajar, berani bermimpi, dan berusaha memberikan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, sekolah, serta masyarakat.

Pewawancara:

Tata Dinasty Sena – Wawancara bersama Farid Fahreza beserta ibundanya.

Keysha dan Annisa – Wawancara bersama Siti Nur Aflah beserta ibundanya.

Zuraida Chasna dan Fitra – Wawancara bersama ibunda Aldhinda.

Tim Publikasi SMK Negeri 6 Purworejo

 
</description>
					                </item><item>
						                <title>Semangat di Tengah Keterbatasan</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/semangat-di-tengah-keterbatasan</link>
						                <description>Purworejo – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh SMK Negeri 6 Purworejo. Pada ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 bidang Teknologi Otomotif, SMK Negeri 6 Purworejo berhasil meraih medali perak (Juara II) melalui siswa Program Keahlian Teknik Otomotif, Rifky Al Ghozali. Kompetisi bergengsi yang diikuti peserta dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tersebut diselenggarakan di Purwokerto selama empat hari, mulai 13 hingga 16 April 2026, dengan pengumuman pemenang dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Prestasi tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang panjang di bawah bimbingan Rifky Novianto, S.Pd., selaku Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Otomotif sekaligus pembimbing utama LKS. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Tata Dinasty Sena dari Tim Majalah Sekolah SMK Negeri 6 Purworejo, Pak Rifky menjelaskan bahwa pemilihan peserta LKS dilakukan melalui beberapa tahapan sehingga sekolah dapat mengirimkan siswa yang benar-benar siap untuk berkompetisi.

"Kompetensi bisa dilatih, tetapi yang pertama harus dimiliki adalah minat. Anak yang memiliki minat akan lebih mudah mengembangkan kemampuannya. Setelah itu kami melihat kecepatan dan ketepatan dalam menguasai kompetensi, kemudian mental. Mental sangat penting karena saat berada di arena lomba peserta harus mampu menguasai situasi dan tidak mudah gugup," jelasnya.

Menurut Pak Rifky, tantangan terbesar dalam membimbing peserta LKS bidang otomotif adalah mengikuti perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sebagai bidang yang berbasis teknologi, pembelajaran dan latihan harus didukung dengan sarana serta prasarana yang memadai. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sekolah terkadang harus mengajukan pengadaan maupun meminjam peralatan yang diperlukan agar peserta dapat berlatih sesuai dengan standar kompetisi.

Selain itu, regenerasi peserta juga menjadi perhatian utama. Mengingat LKS merupakan agenda tahunan, siswa-siswa dari kelas bawah mulai dilibatkan dalam proses pembinaan agar memiliki pengalaman sejak dini dan siap menjadi wakil sekolah pada kompetisi berikutnya.

"Semua siswa memiliki potensi. Yang perlu dibangun adalah kemauan. Dengan kemauan yang kuat, kemampuan akan terus berkembang," ungkapnya.

Sementara itu, Rifky Al Ghozali mengungkapkan bahwa keberhasilannya meraih medali perak tidak diperoleh secara instan. Selama masa persiapan, ia harus mengurangi waktu bermain agar dapat lebih fokus mengikuti latihan, namun tetap menjaga waktu istirahat supaya kondisi tubuh tetap prima.

"Saya lebih mengorbankan waktu bermain daripada waktu tidur. Tidur tetap saya utamakan karena tubuh harus tetap fit agar latihan maupun perlombaan dapat dijalani secara maksimal," tuturnya.

Saat berlaga di tingkat provinsi, Rifky mengaku tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana peserta mampu memahami standar penilaian juri.

"Kadang sudut pandang peserta dengan juri berbeda. Ada kalanya pekerjaan harus dilakukan sesuai dengan standar yang diharapkan juri, bukan berdasarkan cara yang biasa kita lakukan," ujarnya.

Rifky meyakini bahwa keberhasilan yang diraihnya merupakan hasil dari ketekunan, latihan yang sungguh-sungguh, doa, serta restu dari orang tua.

"Yang paling penting adalah tekun, berusaha sungguh-sungguh, selalu berdoa, dan meminta restu kepada orang tua," katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada pembimbingnya, Pak Rifky Novianto, rekan-rekan seperjuangan yaitu Tegar, Faldan, dan Wahyu yang selalu memberikan semangat selama proses latihan, serta kedua orang tua yang senantiasa memberikan doa dan dukungan.

Bagi Pak Rifky Novianto, keberhasilan meraih podium tahun ini menjadi kebanggaan tersendiri. Menurutnya, pola kompetisi LKS tahun 2026 berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dan menuntut kompetensi peserta yang benar-benar matang. Di sisi lain, persaingan juga semakin ketat karena diikuti oleh sekolah-sekolah besar dengan fasilitas yang lebih lengkap.

"Alhamdulillah, kami bersyukur SMK Negeri 6 Purworejo bisa naik podium. Berkat dukungan sekolah, semangat, keyakinan, dan ketenangan peserta saat bertanding, kami mampu bersaing bahkan mengungguli beberapa sekolah yang memiliki fasilitas lebih lengkap," ungkapnya.

Sebagai pembimbing, ia mengakui bahwa rasa cemas selalu hadir selama perlombaan berlangsung. Namun, kepercayaan terhadap kemampuan peserta membuatnya tetap optimis hingga pengumuman pemenang.

Pak Rifky juga menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh pihak di sekolah.

"Saya tidak bisa membangun sistem ini sendirian. Semua unsur di sekolah maupun di jurusan memiliki peran masing-masing. Keberhasilan sebuah tim lahir dari sistem yang saling mendukung dan bekerja bersama," tegasnya.

Menjelang perlombaan, tidak ada persiapan khusus selain latihan yang konsisten dan doa. Pesan yang selalu ia tanamkan kepada peserta adalah agar tetap fokus, tenang, semangat, tidak grogi, dan mengerjakan setiap tugas seperti saat latihan. Menurutnya, mental yang kuat menjadi faktor penentu keberhasilan dalam sebuah kompetisi.

"Kompetensi setinggi apa pun akan sulit menghasilkan prestasi jika tidak didukung mental dan karakter yang baik," tambahnya.

Prestasi yang diraih Rifky Al Ghozali menjadi bukti bahwa semangat, kerja keras, ketekunan, serta kolaborasi seluruh warga sekolah mampu mengantarkan SMK Negeri 6 Purworejo meraih prestasi di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh peserta didik untuk terus mengembangkan kompetensi, berani berkompetisi, dan mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang mampu mengharumkan nama sekolah pada ajang-ajang berikutnya.
</description>
					                </item><item>
						                <title>Dominasi Ganda SMK Negeri 6 Purworejo Ukir Prestasi di Ajang LKS Kabupaten 2026</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/dominasi-ganda-smk-negeri-6-purworejo-ukir-prestasi-di-ajang-lks-kabupaten-2026</link>
						                <description>Ajang bergengsi tahunan yang menguji keterampilan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) se-Kabupaten Purworejo, Lomba Kompetensi Siswa (LKS) 2026, telah usai digelar dengan sukses pada Senin-Kamis, 12-15 Januari 2026. Diselenggarakan oleh Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Purworejo, kompetisi ini menjadi barometer kualitas pendidikan vokasi di wilayah tersebut. Seluruh SMK berpartisipasi aktif, menampilkan bakat-bakat terbaik mereka dalam berbagai bidang keahlian. Dari persaingan ketat yang melibatkan ratusan peserta tersebut, salah satu nama yang paling bersinar adalah SMK Negeri 6 Purworejo, yang berhasil mengukuhkan dominasi mereka di panggung kompetisi dengan membawa pulang dua gelar juara.
SMK Negeri 6 Purworejo membuktikan kapasitasnya sebagai salah satu institusi vokasi unggulan dengan meraih dua gelar bergengsi dari bidang yang sangat berbeda. Gelar pertama dan yang paling mencolok adalah Juara 1 untuk kategori Automobile Technology. Kemenangan ini menegaskan bahwa keahlian otomotif yang dimiliki siswa SMKN 6 Purworejo berada pada level tertinggi, mampu menanggapi tantangan teknologi kendaraan modern dengan keterampilan praktis yang mumpuni. Tidak hanya unggul di sektor mekanik, sekolah tersebut juga menorehkan prestasi di bidang kreatif, yakni dengan meraih Juara 3 dalam kategori Fashion Technology. Capaian ini menunjukkan bahwa kreativitas tanpa batas dan inovasi desain siswa Purworejo diakui dan diapresiasi oleh dewan juri.
Keberhasilan ganda ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika SMK Negeri 6 Purworejo, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh peserta LKS Kabupaten Purworejo. Prestasi ini merupakan bekal berharga bagi para juara untuk melangkah ke tingkat kompetisi yang lebih tinggi. Seluruh pihak berharap agar para pemenang tidak cepat puas, terus mengasah kemampuan, dan menyiapkan semangat juang mereka untuk menghadapi tantangan berikutnya, khususnya dalam LKS tingkat provinsi. Kemenangan ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa sekolah kejuruan di Purworejo mampu mencetak talenta-talenta muda yang kompeten dan siap bersaing di dunia industri masa depan. WE ARE THE CHAMPIONS!
</description>
					                </item><item>
						                <title>Laporan Rekapitulasi Realisasi Penggunaan Dana BOS Kinerja Tahun 2025 SMKN 6 Purworejo</title>
						                <link>https://smkn6purworejo.sch.id/berita/detail/laporan-rekapitulasi-realisasi-penggunaan-dana-bos-kinerja-tahun-2025-smkn-6-purworejo</link>
						                <description></description>
					                </item></channel>
  	</rss>