\"Ketika Bel Berbunyi untuk Terakhir Kalinya\"
Jejak Pengabdian Ibu Marsini, Guru Legenda yang Mengajarkan Lebih dari Sekadar Bahasa Inggris

Gambar : Ibu marsini guru legenda SMK Negeri 6 Purworejo melakukan wawancara pertama Dan terakhir dengan tim mading SMK Negeri 6 Purworejo
"Guru boleh memasuki masa purna tugas tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan akan terus hidup dalam diri murid-muridnya."
Oleh Tim Wawancara Mading SMK Negeri 6 Purworejo
Mutia Anggraeni • Kharisma Putri Z • Syiva Permata (XI Busana 1)
Jumat, 31 Juli 2026 menjadi hari yang penuh haru bagi keluarga besar SMK Negeri 6 Purworejo. Setelah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri sebagai pendidik, Ibu Marsini resmi mengakhiri masa tugasnya. Beliau pertama kali menginjakkan kaki sebagai guru pada 2 Januari 1991. Sejak saat itu, ribuan siswa telah beliau temui, dididik, dibimbing, bahkan ditegur demi menjadi pribadi yang lebih baik.
Bagi banyak alumni, nama Ibu Marsini mungkin identik dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Namun bagi mereka yang pernah merasakan didikannya secara langsung, beliau adalah guru yang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada tata bahasa dan kosakata. Beliau mengajarkan tentang disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan bagaimana menjadi manusia yang berkarakter.
Saat ditanya mengenai hal yang paling beliau syukuri selama mengajar, jawabannya begitu sederhana namun menyentuh.
"Saya berhasil mengajarkan kedisiplinan kepada siswa, terutama dalam hal ibadah."
Kalimat itu menggambarkan siapa sebenarnya Ibu Marsini. Baginya, keberhasilan seorang guru bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi juga dari tumbuhnya kebiasaan baik dalam kehidupan para siswanya.
Kenangan yang paling membekas justru bukan tentang prestasi atau penghargaan. Yang paling beliau ingat adalah wajah-wajah siswa yang pernah berbuat nakal, terlebih ketika ada yang tidak jujur kepada gurunya. Meski telah lama lulus, nama mereka masih melekat dalam ingatan. Bukan karena kebencian, melainkan karena seorang guru selalu menyimpan harapan agar setiap anak didiknya kelak menjadi pribadi yang lebih baik.
Selama menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ibu Marsini dikenal sebagai sosok yang tegas. Namun di balik ketegasan itu tersimpan kasih sayang yang besar kepada setiap siswa.
Beliau meyakini bahwa disiplin dan tanggung jawab adalah dua fondasi utama pendidikan karakter. Menurutnya, ketika seorang siswa memiliki kedua nilai tersebut, maka berbagai kebaikan lainnya akan tumbuh dengan sendirinya.
"Anak yang rajin, disiplin, dan bertanggung jawab itu bagaikan sebuah sinar yang memancarkan cahayanya sendiri."
Ungkapan itu menjadi filosofi yang beliau pegang sepanjang menjadi pendidik.
Ada pula kisah sederhana yang menjadi kebanggaan terbesar dalam hidupnya sebagai wali kelas. Setiap awal tahun ajaran, beliau selalu menanyakan kepada siswa siapa yang sudah menjalankan salat lima waktu secara tertib. Bagi yang belum, beliau memberikan perhatian dan pendampingan.
Perlahan tetapi pasti, perubahan itu terjadi. Hingga akhirnya seluruh siswa di kelas yang beliau dampingi mampu melaksanakan salat lima waktu dengan tertib.
Bagi sebagian orang, pencapaian itu mungkin tidak terlihat dalam bentuk piagam atau piala. Namun bagi Ibu Marsini, keberhasilan membimbing siswa menjalankan ibadah adalah kebahagiaan yang nilainya jauh melampaui materi.
Perjalanan mengajar selama lebih dari 35 tahun juga membuat beliau menyaksikan perubahan zaman. Saat mulai mengajar pada tahun 1991, siswa belum mengenal dunia digital. Kini, telepon genggam dan internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Beliau melihat perkembangan teknologi sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi membuka banyak peluang, tetapi di sisi lain juga menjadi tantangan apabila tidak digunakan dengan bijaksana, terutama ketika mengganggu proses belajar.
Kini, setelah memasuki masa purna tugas, Ibu Marsini memiliki harapan yang sederhana namun penuh makna. Beliau ingin menikmati hari-harinya dengan sehat, memperbanyak mengaji, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Sebelum menutup wawancara, beliau menyampaikan pesan kepada guru-guru muda agar terus mendidik dengan kreativitas, kesabaran, kedisiplinan, dan keteladanan. Menurut beliau, tantangan pendidikan saat ini memang berbeda, tetapi tujuan seorang guru tetap sama, yaitu mengantarkan siswa meraih cita-citanya.
Kepada para alumni, beliau juga berpesan agar nilai-nilai yang telah dipelajari di SMK Negeri 6 Purworejo—mulai dari Kaizen, budaya 5S, tata tertib, hingga pendidikan karakter—benar-benar diterapkan di dunia kerja. Sebab bekal yang diperoleh di sekolah akan menjadi penentu keberhasilan di masa depan.
Di penghujung wawancara, doa beliau mengalir tulus untuk almamater tercinta.
"Semoga SMK Negeri 6 Purworejo semakin jaya, semakin berkualitas, dan semakin dipercaya masyarakat."
Hari itu memang menjadi akhir perjalanan beliau sebagai seorang guru di sekolah. Namun sesungguhnya, tidak ada kata pensiun bagi nilai-nilai yang telah beliau tanamkan.
Selama masih ada murid yang datang tepat waktu, bertanggung jawab atas tugasnya, menjaga kejujuran, menghormati gurunya, menjalankan ibadah dengan baik, dan mengamalkan budaya kerja yang telah dipelajari, selama itu pula jejak Ibu Marsini akan terus hidup.
Sebab seorang guru sejati tidak dikenang karena lamanya mengajar, melainkan karena kehidupan yang berhasil ia ubah.
Terima kasih atas 35 tahun lebih pengabdian, Ibu Marsini.
Selamat memasuki masa purna tugas.
Semoga setiap ilmu yang telah Ibu ajarkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa henti.




