MENJAHIT KETEKUNAN, MENOPANG SEKOLAH
Kisah Bu Warnidah di Balik Perjalanan UBET Busana SMK Negeri 6 Purworejo

Gambar : Ibu Warnidah Sosok Pendiri Ubet Busana di SMK Negeri 6 Purworejo bersama tim mading divisi wawancara (Tata,Keisha dan Annisa)
MENJAHIT KETEKUNAN, MENOPANG SEKOLAH
Kisah Bu Warnidah, di Balik Perjalanan UBET Busana SMK Negeri 6 Purworejo
Oleh: Tim Mading Divisi Wawancara SMK Negeri 6 Purworejo
(Tata Dinasti Sena, Keisha Dwi Estri, Annisa Nugraheni)
Ada banyak cara untuk membangun sebuah sekolah. Ada yang berdiri di depan kelas dan menyalakan semangat belajar. Ada yang bekerja di balik meja, memastikan administrasi berjalan. Ada pula yang bekerja dengan tangan, ketekunan, dan kesabaran—menghasilkan sesuatu yang kemudian kembali dipersembahkan untuk kemajuan sekolah.
Di SMK Negeri 6 Purworejo, salah satu kisah itu dapat ditemukan dalam perjalanan UBET Busana.
Bagi sebagian orang, UBET mungkin dikenal sebagai unit produksi yang menghasilkan berbagai produk busana. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, UBET memiliki cerita yang jauh lebih panjang. Ia tumbuh bersama perjalanan sekolah dan menjadi salah satu bagian yang turut menopang perkembangan jurusan Busana, bahkan memberikan kontribusi bagi kebutuhan sekolah.
Di balik perjalanan tersebut terdapat sosok Bu Warnidah, yang akrab disapa Bu Ida, bersama Bu Haryanti. Keduanya merupakan bagian dari orang-orang yang merintis UBET Busana pada masa-masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri.
Kisah ini bukan sekadar tentang menjahit pakaian.
Ini adalah kisah tentang ketekunan, amanah, kerja keras, dan keberanian untuk memulai dari sesuatu yang sederhana.
Datang ketika sekolah masih sangat muda
Perjalanan Bu Warnidah di SMK Negeri 6 Purworejo dimulai pada 1 Maret 2005.
Saat itu, SMK Negeri 6 Purworejo masih berada pada masa awal perjalanannya—baru memasuki tahun pertama, tepatnya semester kedua.
Latar belakang pendidikan Tata Busana yang ditempuhnya di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menjadi bekal yang kemudian mempertemukan Bu Warnidah dengan dunia pendidikan dan bidang yang telah menjadi keahliannya.
Namun, tidak pernah terbayangkan bahwa perjalanan pengabdian tersebut kelak akan membawanya menjadi salah satu sosok penting dalam perjalanan sebuah unit produksi yang bernama UBET Busana.
Dari seragam sekolah, lahirlah UBET
Pada awalnya, UBET tidak lahir sebagai sebuah unit produksi dengan konsep besar.
Semuanya bermula dari kebutuhan sekolah.
Ketika tiba masa pembagian seragam siswa, proses pembuatan seragam dilakukan di sekolah. Jumlah pekerjaan yang cukup banyak membuat pekerjaan tersebut tidak mungkin ditangani sendiri. Tenaga karyawan pun mulai dilibatkan untuk membantu menyelesaikan produksi.
Dari aktivitas itulah, kegiatan produksi mulai berkembang.
Awalnya belum ada nama UBET.
Hingga kemudian nama tersebut digunakan, diambil dari bahasa Jawa yang memiliki nuansa makna “sat-set” dalam mencari penghasilan.
Sebuah nama yang sederhana, tetapi seolah menggambarkan semangat orang-orang di dalamnya: bergerak cepat, bekerja keras, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Dari sinilah perjalanan UBET Busana dimulai.
Tidak selalu mudah menjahit sebuah perjuangan
Membangun sesuatu dari nol tentu tidak pernah mudah.
Bu Warnidah masih mengingat berbagai tantangan yang harus dihadapi dalam menjalankan produksi.
Salah satunya adalah persoalan waktu.
Ketika tahun ajaran baru tiba, pesanan seragam meningkat dan target produksi harus segera diselesaikan. Dalam kondisi tertentu, pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu. Namun, pada situasi lain, target tersebut tidak selalu mudah dicapai.
Persoalan juga dapat muncul dari ukuran pakaian.
Pesanan yang dibuat berdasarkan ukuran standar terkadang belum sesuai ketika sampai di tangan pelanggan. Akibatnya, komplain pun muncul.
Bagi sebagian orang, komplain mungkin menjadi sesuatu yang melelahkan.
Namun bagi UBET, komplain justru menjadi bagian dari tanggung jawab.
Barang atau bahan yang tidak sesuai harus segera diganti.
Karena bagi Bu Warnidah, mempertahankan kepercayaan pelanggan tidak dapat dilakukan hanya dengan menghasilkan produk. Pelayanan dan tanggung jawab setelah produk diterima juga menjadi bagian penting dari pekerjaan.
“Bekerja keras dan memberi pelayanan yang terbaik.”
Kalimat sederhana itulah yang menjadi salah satu kunci yang ia pegang dalam perjalanan UBET Busana.
Bekerja dengan tangan, mengelola dengan amanah
Ada bagian dari UBET Busana yang mungkin tidak banyak terlihat oleh orang lain.
Bukan tentang mesin jahit.
Bukan tentang pola.
Bukan pula tentang kain yang dipotong dan dijahit.
Melainkan tentang angka-angka.
Bu Warnidah memiliki peran dalam pengelolaan keuangan UBET. Pekerjaan yang menuntut ketelitian dan tanggung jawab besar.
Baginya, uang yang dikelola bukanlah milik pribadi. Karena itu, semuanya harus dilakukan dengan penuh amanah.
Pemasukan dicatat.
Pengeluaran diperiksa.
Catatan dicek kembali.
Semua dilakukan agar tidak ada sesuatu yang terlupa dan setiap rupiah dapat dipertanggungjawabkan.
“Berusaha untuk teliti dan berusaha untuk amanah sebab memegang tanggung jawab pada uang yang bukan milik pribadi.”
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa bagi Bu Warnidah, bekerja bukan hanya tentang mendapatkan hasil.
Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dijaga.
Ketika hasil jahitan kembali untuk sekolah
Mungkin inilah bagian yang membuat perjalanan UBET Busana menjadi begitu berarti.
UBET tidak hanya menghasilkan pemasukan untuk dirinya sendiri.
Sebagian hasil yang diperoleh dapat kembali digunakan untuk membantu perkembangan jurusan Busana.
Bu Warnidah menceritakan bagaimana pemasukan dari UBET dapat membantu memenuhi kebutuhan jurusan, termasuk membeli fasilitas seperti mesin obras ketika dana dari sekolah belum mencukupi.
Kontribusinya bahkan pernah membantu renovasi gedung karena UBET memiliki persentase kontribusi biaya yang cukup besar.
UBET juga pernah mampu menyediakan seragam dengan menggunakan modal dari unit produksi sendiri, bukan semata-mata mengandalkan dana sekolah.
Bahkan, harga produk tetap diupayakan terjangkau dengan kualitas bahan yang baik.
Pada titik inilah kita dapat melihat bahwa UBET Busana bukan hanya sebuah tempat untuk memproduksi pakaian.
Ia menjadi salah satu bagian yang ikut menopang kehidupan sekolah.
Apa yang dihasilkan dari kain, benang, mesin, dan kerja keras, pada akhirnya kembali menjadi fasilitas, kebutuhan, dan kesempatan belajar bagi warga sekolah.
Dari menjahit pakaian, menuju menjahit karakter
Bagi Bu Warnidah, UBET juga bukan sekadar tempat bekerja.
Di dalamnya terdapat siswa yang belajar.
Dan bagi siswa, pengalaman berada di lingkungan kerja memberikan pelajaran yang tidak selalu ditemukan melalui buku.
Bu Warnidah ingin siswa memahami arti kejujuran, ketertiban, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Mereka harus belajar bekerja dengan sungguh-sungguh.
Tidak bermalas-malasan.
Tidak sibuk dengan ponsel ketika pekerjaan sedang menunggu.
Sebab dunia kerja tidak hanya membutuhkan seseorang yang bisa melakukan sesuatu.
Dunia kerja membutuhkan seseorang yang mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Menurut Bu Warnidah, siswa Busana juga harus memiliki kompetensi dasar seperti kemampuan menjahit, menguasai pola, memahami desain, serta memiliki keterampilan lain yang mendukung bidang fashion.
Namun, keterampilan tersebut harus berjalan bersama karakter.
Skill tanpa tanggung jawab akan kehilangan makna.
“Jangan takut gagal atau rugi.”
Setelah bertahun-tahun mendampingi perjalanan UBET Busana, Bu Warnidah memiliki pesan yang sangat kuat untuk generasi muda SMK Negeri 6 Purworejo.
Menurutnya, belajar tidak boleh berhenti hanya karena seseorang telah meninggalkan bangku sekolah.
Sekolah adalah jalan pembuka.
Setelah itu, siswa harus berani mengembangkan dirinya di tempat lain—baik ketika masih bersekolah maupun setelah lulus.
Ada pengalaman yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang berani mencoba.
Ada pelajaran yang justru lahir dari kegagalan.
Dan ada keberhasilan yang hanya dapat ditemukan setelah seseorang berkali-kali melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya.
“Jangan takut gagal atau rugi. Coba dan berusaha. Dari hal itu dapat menjadi pengalaman dan evaluasi supaya ke depannya tidak menjadi kesalahan lagi.”
Pesan itu kemudian sampai pada satu hal yang sangat penting:
“Kalau kita sudah memiliki keterampilan, jangan disia-siakan. Suatu saat nanti itu akan menjadi senjata kita dalam kehidupan, bahkan bisa untuk bertahan hidup.”
Mungkin inilah salah satu warisan terbesar yang ingin Bu Warnidah tinggalkan kepada siswa.
Bukan hanya keterampilan menjahit.
Tetapi keyakinan bahwa keterampilan yang dimiliki seseorang dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan.
UBET hari ini, harapan untuk hari esok
Perjalanan UBET Busana belum selesai.
Bu Warnidah berharap UBET dapat terus berkembang, menjadi tempat praktik dan PKL bagi siswa, sekaligus memberikan kontribusi lebih besar dalam menambah fasilitas jurusan Busana.
Harapan itu terdengar sederhana.
Namun jika melihat perjalanan UBET sejak masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri, harapan tersebut menyimpan makna yang jauh lebih besar.
Dari sebuah kebutuhan menjahit seragam, UBET tumbuh.
Dari keterbatasan tenaga, lahir kerja sama.
Dari komplain, lahir evaluasi.
Dari keuntungan, lahir kontribusi.
Dan dari tempat produksi, lahir ruang belajar bagi generasi muda.
Sebuah sejarah yang dijahit dengan ketekunan
Hari ini, mungkin banyak siswa menikmati fasilitas sekolah tanpa pernah mengetahui siapa yang ikut memperjuangkannya.
Mungkin ada yang menggunakan ruang belajar tanpa tahu bahwa sebagian proses pengembangannya pernah ditopang oleh sebuah unit produksi.
Mungkin ada yang belajar menjahit tanpa menyadari bahwa sebelum mereka datang, telah ada orang-orang yang terlebih dahulu membangun jalan.
UBET Busana adalah salah satu bagian dari cerita tersebut.
Dan di baliknya ada Bu Warnidah bersama Bu Haryanti, yang pada masa awal SMK Negeri 6 Purworejo berdiri ikut merintis sebuah unit produksi dari sesuatu yang sederhana.
Mereka menjahit bukan hanya kain.
Mereka menjahit ketekunan.
Mereka menjahit tanggung jawab.
Mereka menjahit kemandirian.
Dan pada akhirnya, hasil jahitan itu menjadi bagian dari perjalanan sebuah sekolah.
Sebab terkadang, orang-orang yang paling berjasa dalam membangun sebuah institusi bukanlah mereka yang paling sering terlihat di depan.
Melainkan mereka yang dengan tekun bekerja di belakang layar, memastikan roda kehidupan sekolah terus bergerak.
Dan UBET Busana adalah salah satu bukti bahwa sebuah karya yang dikerjakan dengan ketekunan dapat tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar produk.
WAWANCARA EKSKLUSIF
Mading SMK Negeri 6 Purworejo — Divisi Wawancara




