Warisan Terakhir Pak Hartoyo:
Membangun Generasi Berkarakter Melalui Program Ketarunaan

Gambar : Pak Hartoyo wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, sosok di balik program ketarunaan SMKN 6 Purworejo
Di balik lahirnya Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo, tersimpan sebuah gagasan besar yang ingin diwariskan jauh melampaui masa pengabdian.
Oleh: Zuraida Chasna & Kharisma Wahyu
Tim Jurnalistik Mading SMK Negeri 6 Purworejo
PURWOREJO — Sebuah program besar tidak pernah lahir begitu saja. Di baliknya selalu ada kegelisahan, harapan, dan sosok yang berani mengambil langkah pertama. Hal itulah yang tergambar dari lahirnya Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo, sebuah program pembentukan karakter yang kini menjadi identitas sekolah.
Di balik program tersebut berdiri sosok Hartoyo, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, yang merancang, mengawal, sekaligus memastikan gagasan tersebut benar-benar menjadi budaya di lingkungan sekolah. Menjelang masa purna tugasnya, beliau tidak ingin dikenang karena jabatan yang pernah diemban, melainkan melalui sebuah warisan yang akan terus hidup dan berkembang pada generasi-generasi berikutnya.
Berawal dari Keprihatinan Pascapandemi
Gagasan mengenai ketarunaan lahir setelah Pak Hartoyo mengamati perubahan perilaku peserta didik pascapandemi COVID-19. Selama pembelajaran jarak jauh, aktivitas fisik siswa berkurang, sementara penggunaan telepon genggam meningkat. Kebiasaan disiplin yang sebelumnya mulai terbentuk pun perlahan memudar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi pihak sekolah. Menurut Pak Hartoyo, sekolah tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik atau keterampilan kejuruan. Karakter yang kuat juga harus dibangun agar mereka siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
"Kami ingin siswa memiliki fisik yang kuat sekaligus membentuk karakter mereka, supaya kedisiplinan dan rasa tanggung jawabnya juga muncul untuk ke depannya," tutur Pak Hartoyo.
Dari keprihatinan itulah lahir sebuah gagasan yang kemudian berkembang menjadi Program Ketarunaan SMK Negeri 6 Purworejo.
Belajar dari Sekolah Lain
Keinginan membangun karakter secara lebih terarah mendorong Pak Hartoyo bersama tim sekolah melakukan studi banding ke sejumlah sekolah yang telah lebih dahulu menerapkan sistem ketarunaan.
Melalui kunjungan tersebut, mereka mempelajari bagaimana pembinaan karakter dapat dilakukan secara sistematis melalui latihan kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, serta kerja sama. Kolaborasi dengan TNI dalam pembinaan karakter juga menjadi salah satu inspirasi penting dalam menyusun konsep ketarunaan yang sesuai dengan kebutuhan SMK Negeri 6 Purworejo.
Namun, mewujudkan sebuah program tentu tidak semudah menyampaikan gagasan. Dibutuhkan proses panjang mulai dari penyusunan konsep, pengajuan anggaran, hingga berbagai persiapan teknis lainnya. Setelah seluruh tahapan berhasil dilalui, Program Ketarunaan resmi diterapkan pada tahun 2025. Kini, pada tahun 2026, program tersebut telah memasuki angkatan kedua.
Membentuk Karakter, Bukan Mendidik Militer
Masih banyak masyarakat yang menganggap ketarunaan identik dengan pendidikan militer. Menurut Pak Hartoyo, anggapan tersebut perlu diluruskan.
Di SMK Negeri 6 Purworejo, ketarunaan bukanlah program militerisasi, melainkan program pembentukan karakter. Latihan fisik hanyalah salah satu sarana untuk melatih kedisiplinan, bukan tujuan utama.
Nilai-nilai yang ingin ditanamkan jauh lebih luas, meliputi integritas, etika, tanggung jawab, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, komunikasi, hingga keberanian mengambil keputusan. Seluruhnya merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan ketika lulusan memasuki dunia industri maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pembiasaan yang Menjadi Budaya
Dalam pelaksanaannya, peserta didik mengikuti berbagai kegiatan pembinaan karakter, seperti latihan baris-berbaris, senam kebugaran, latihan kepemimpinan, kerja sama tim, pendidikan etika dan tata krama, serta pembiasaan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah meyakini bahwa karakter tidak dibentuk melalui ceramah, melainkan melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi budaya.
Perubahan yang Mulai Terlihat
Sebagai program yang masih relatif baru, pelaksanaan ketarunaan tentu tidak lepas dari tantangan. Pada awal penerapannya, sebagian siswa merasa keberatan karena harus datang lebih pagi dan mengikuti aktivitas fisik secara rutin.
Namun, seiring berjalannya waktu, manfaat program mulai terlihat secara nyata. Penampilan siswa menjadi lebih rapi. Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) semakin berkembang. Guru juga merasakan bahwa siswa lebih mudah diarahkan, lebih berani melakukan hal-hal positif, serta menunjukkan kedisiplinan yang semakin baik dalam kehidupan sekolah.
Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa pembentukan karakter memang membutuhkan proses, tetapi hasilnya dapat dirasakan oleh seluruh warga sekolah.
Tantangan yang Harus Dijaga Bersama
Di balik berbagai keberhasilan tersebut, tantangan tetap ada. Penyesuaian waktu menjadi salah satu kendala utama karena seluruh warga sekolah harus memulai aktivitas lebih awal untuk mengikuti apel pagi dan rangkaian kegiatan ketarunaan.
Meski demikian, semangat membangun budaya disiplin terus dijaga. Seluruh warga sekolah menyadari bahwa keteladanan dan konsistensi merupakan kunci utama dalam membentuk karakter peserta didik.
Warisan yang Ingin Terus Hidup
Menjelang masa purna tugasnya, Pak Hartoyo tidak berbicara mengenai prestasi pribadi ataupun penghargaan yang pernah diraih. Beliau justru berharap Program Ketarunaan tetap berjalan meskipun dirinya sudah tidak lagi mengabdi di sekolah.
"Harapan saya, karena tahun depan saya sudah purna tugas, saya ingin meninggalkan program ini agar bisa diteruskan oleh guru-guru yang lain. Ketika saya sudah tidak ada di sini, kegiatan ini masih tetap berjalan sehingga pembentukan karakter anak-anak tetap bisa dilakukan," ungkap beliau.
Harapan tersebut memperlihatkan bahwa Program Ketarunaan bukan sekadar agenda sekolah, melainkan sebuah investasi jangka panjang dalam membangun karakter generasi muda.
Mewariskan Nilai, Bukan Sekadar Program
Melalui Program Ketarunaan, SMK Negeri 6 Purworejo terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten di bidang keahlian, tetapi juga berintegritas, disiplin, beretika, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Sejalan dengan semangat Kom'paq (Kompeten, Etis, Pembelajar, dan Taqwa), sekolah berharap setiap lulusan mampu menjadi pribadi yang siap menghadapi dunia kerja, pendidikan tinggi, maupun kehidupan bermasyarakat.
Program Ketarunaan mungkin lahir dari gagasan satu orang, tetapi keberlanjutannya akan ditentukan oleh seluruh warga sekolah. Itulah warisan sesungguhnya yang ingin ditinggalkan Pak Hartoyo—bukan sekadar sebuah program, melainkan budaya yang terus membentuk generasi demi generasi.




