Seputar Pemilihan
Wawancara eksklusif bersama paslon 1
.jpg)
Gambar : Pasangan calon ketua OSIS dan wakil calon ketua OSIS nomor urut 1 masa bakti 2026/2027
DI BALIK NOMOR URUT 1
Alyaa–Rifky, Dua Suara tentang OSIS yang Mau Mendengar dan Bergerak
Wawancara Eksklusif Tim Mading SMK Negeri 6 Purworejo | Pemilihan Ketua & Wakil Ketua OSIS Masa Bakti 2026/2027
Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMK Negeri 6 Purworejo masa bakti 2026/2027 bukan sekadar persoalan memilih nama atau mencoblos nomor urut.
Di balik setiap pasangan calon, ada gagasan, cara berpikir, karakter, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan apa yang mereka tawarkan kepada siswa.
Untuk itu, Tim Mading SMK Negeri 6 Purworejo, melalui Gunawan Tri Setia dan Wahyu Pratama Putra Riyadi, melakukan wawancara eksklusif dengan Pasangan Calon Nomor Urut 1: Alyaa Alifyandi sebagai calon Ketua OSIS dan Rifky Satryo Aji sebagai calon Wakil Ketua OSIS.
Bukan hanya tentang visi dan misi, wawancara ini mencoba menggali hal yang lebih mendasar:
Bagaimana mereka melihat masalah? Bagaimana mereka menghadapi perbedaan? Seberapa berani mereka mengambil keputusan? Dan, yang paling penting, seperti apa OSIS yang ingin mereka bangun?
Alyaa: “Pemimpin Harus Bisa Merangkul”
Sebagai calon Ketua OSIS, Alyaa Alifyandi tidak melihat kepemimpinan semata-mata sebagai posisi yang berada di depan.
Siswi kelas XI Broadcasting 2 tersebut justru menekankan pentingnya kemampuan seorang pemimpin untuk merangkul dan memotivasi.
Menurut Alyaa, menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah karena di dalamnya terdapat tanggung jawab yang besar.
Pandangan tersebut kemudian diuji ketika ia ditanya mengenai persoalan nyata yang masih dirasakan siswa.
Salah satu persoalan yang ia soroti adalah kesulitan sebagian siswa ketika harus membayar iuran dana menjelang kegiatan Class Meeting.
Alih-alih hanya meminta siswa untuk membayar, Alyaa menawarkan gagasan bank sampah sebagai salah satu solusi.
Program ini menurutnya tidak hanya dapat membantu meringankan biaya iuran, tetapi juga menjadi program berkelanjutan yang mengajarkan siswa memilah sampah sekaligus mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Di sinilah gagasan Alyaa menjadi menarik.
Masalah iuran tidak hanya dilihat sebagai persoalan uang, tetapi dicoba dihubungkan dengan persoalan lingkungan.
Sebuah masalah diubah menjadi peluang.
Bukan Sekadar Program di Atas Kertas
Jika terpilih, Alyaa menyebut tiga hal yang ingin menjadi perhatian awal kepemimpinannya: memperkuat OSIS, memperbaiki komunikasi antaranggota, dan melakukan kegiatan nyata.
Kata “nyata” menjadi penting.
Sebab, dalam organisasi sekolah, sebuah program kerja akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada proposal, rapat, dan daftar kegiatan.
Alyaa juga menyadari bahwa tidak semua program akan langsung disukai mayoritas siswa.
Baginya, kritik dan komentar dari siswa justru perlu didengar. Pendapat tersebut akan dikumpulkan, disimpulkan, kemudian disampaikan kepada pembina atau guru yang berkaitan.
Namun, ia juga memiliki satu prinsip:
Program OSIS tidak selalu harus dibuat hanya untuk menyenangkan siswa.
Menurut Alyaa, sebuah program juga harus memiliki tujuan untuk membuat siswa menjadi lebih baik.
Artinya, popularitas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah program.
Ketika Pemimpin Harus Mengatakan: “Saya Salah”
Salah satu bagian paling menarik dari wawancara dengan Alyaa muncul ketika ia ditanya apakah seorang Ketua OSIS harus selalu terlihat benar.
Jawabannya tidak.
Alyaa mengakui bahwa dirinya pernah berada dalam situasi ketika pendapatnya ternyata salah.
Jika hal tersebut terjadi, ia mengatakan siap meminta maaf, memperbaiki pendapat, bahkan mengatakan “saya salah” di depan anggota OSIS.
Bagi Alyaa, pemimpin harus memiliki kejujuran dan keberanian untuk mengakui kesalahan.
Sikap tersebut menjadi penting karena kepemimpinan bukan tentang mempertahankan gengsi, melainkan tentang memastikan keputusan yang diambil membawa organisasi ke arah yang lebih baik.
Rifky: Wakil Bukan Sekadar “Pembantu” Ketua
Di sisi lain, calon Wakil Ketua OSIS Rifky Satryo Aji memiliki pandangan yang cukup tegas mengenai posisi yang akan diembannya.
Menurut Rifky, Wakil Ketua memang bertugas mendampingi Ketua.
Tetapi, wakil bukan sekadar pembantu Ketua.
Wakil memiliki peran dalam memberikan pertimbangan, mengawasi jalannya program, membantu menyelesaikan masalah, dan menjadi penghubung antara Ketua dengan anggota.
Rifky bahkan menegaskan bahwa dirinya ingin menjadi wakil yang aktif memberikan ide dan solusi, bukan seseorang yang hanya menunggu perintah.
Baginya, Ketua dan Wakil harus berjalan bersama.
Bukan satu orang memimpin dan satu orang mengikuti, tetapi dua orang yang saling menguatkan.
Berani Menegur Ketua?
Pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu ujian paling menarik bagi seorang calon Wakil Ketua.
Bagaimana jika Ketua melakukan sesuatu yang menurut Wakil kurang tepat?
Rifky menjawab singkat:
“Berani.”
Ia mengatakan akan menegur Ketua apabila diperlukan, tetapi dilakukan secara pribadi dan dengan cara yang sopan.
Rifky bahkan tidak ingin menjadi pasangan yang selalu berkata “iya”.
Ia ingin menjadi orang yang mampu mengingatkan ketika terjadi kesalahan.
Menariknya, prinsip tersebut berlaku dua arah.
Jika ia menginginkan kebebasan untuk memberikan kritik kepada Ketua, ia juga menyatakan siap menerima kritik dari Ketua.
Dengan demikian, pasangan ini tidak hanya berbicara tentang kekompakan, tetapi juga tentang kemampuan untuk saling mengoreksi.
Bagaimana Jika Ketua dan Wakil Berbeda Pendapat?
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam organisasi.
Alyaa mengatakan bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat yang kuat antara Ketua dan Wakil, mereka harus menyampaikan pendapat masing-masing dan mencari titik tengah.
Rifky memiliki pandangan yang sejalan.
Jika memiliki pendapat berbeda dengan Ketua, ia tidak akan langsung menganggap dirinya paling benar.
Ia akan menjelaskan alasan dan sudut pandangnya, kemudian mendengarkan pertimbangan Ketua.
Dari sini terlihat satu prinsip yang cukup jelas:
perbedaan pendapat tidak harus berakhir menjadi konflik.
Yang menentukan adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola.
Jika Anggota Tidak Aktif, Langsung Ditegur?
Tidak selalu.
Rifky mengatakan bahwa ia tidak ingin langsung menyalahkan anggota yang tidak aktif.
Ia akan mencari tahu terlebih dahulu penyebabnya.
Mungkin anggota tersebut belum memahami tugasnya. Mungkin memiliki kendala. Atau mungkin merasa tidak cukup dilibatkan.
Setelah itu, ia akan mengajak berdiskusi dan memperjelas pembagian tugas.
Namun, sikap terbuka tersebut bukan berarti tanpa batas.
Jika sudah diberi kesempatan dan arahan tetapi tetap tidak bertanggung jawab, Rifky menilai evaluasi dan sikap tegas tetap diperlukan.
Dengan kata lain, mendengarkan bukan berarti membiarkan.
Dua Karakter, Satu Benang Merah
Alyaa menggambarkan dirinya sebagai pribadi yang tegas, cerewet, dan mudah bersosialisasi.
Menurutnya, kemampuan bersosialisasi dapat menjadi jembatan komunikasi dengan siswa.
Sementara itu, Rifky ingin dikenal sebagai sosok yang mau mendengarkan dan dapat diandalkan.
Ia tidak ingin dikenang hanya karena jabatan atau banyaknya kegiatan yang dilakukan.
Ia justru ingin menjadi orang yang ketika siswa memiliki masalah, mereka dapat berkata:
“Kalau cerita atau minta bantuan ke dia, pasti didengarkan.”
Dua karakter tersebut memperlihatkan pembagian peran yang menarik.
Alyaa berbicara tentang merangkul dan memotivasi.
Rifky berbicara tentang mendengarkan dan memastikan program berjalan.
Keduanya bertemu pada satu kata yang sama:
komunikasi.
Bukan Hanya Bicara, Tetapi Apa yang Akan Ditinggalkan?
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar dalam setiap pemilihan organisasi bukanlah seberapa bagus seorang kandidat berbicara saat kampanye.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang akan benar-benar tersisa setelah masa kepemimpinannya berakhir?
Alyaa memiliki satu jawaban: budaya peduli lingkungan yang melibatkan siswa.
Gagasan bank sampah yang ia sampaikan menjadi salah satu bentuk konkret dari keinginan tersebut.
Sementara Rifky ingin meninggalkan kesan sebagai Wakil Ketua yang mau mendengarkan dan bisa diandalkan.
Dari dua jawaban tersebut, terlihat bahwa Paslon 01 tidak hanya menawarkan kegiatan, tetapi juga mencoba menawarkan kebiasaan dan budaya organisasi.
Pada Akhirnya, Siswa yang Menentukan
Wawancara ini tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang paling baik.
Sebaliknya, wawancara ini menjadi ruang bagi siswa untuk melihat kandidat lebih dekat—bukan hanya dari poster, slogan, atau nomor urut.
Alyaa Alifyandi dan Rifky Satryo Aji telah menyampaikan cara pandang mereka mengenai kepemimpinan, program kerja, konflik, kritik, aspirasi siswa, hingga perubahan yang ingin mereka tinggalkan.
Kini, tugas siswa adalah mengenal, mempertimbangkan, dan menentukan pilihan secara bijak.
Karena memilih pemimpin bukan hanya tentang:
“Siapa yang saya kenal?”
Tetapi juga:
“Siapa yang gagasannya saya pahami, karakternya saya percaya, dan tanggung jawabnya siap saya pertimbangkan?”
Paslon 01 telah berbicara. Kini, saatnya siswa mendengar dan menilai.
TIM MADING SMK NEGERI 6 PURWOREJO
Pewawancara:
Gunawan Tri Setia
Wahyu Pratama Putra Riyadi
Narasumber:
Alyaa Alifyandi — Calon Ketua OSIS Nomor Urut 1
Rifky Satryo Aji — Calon Wakil Ketua OSIS Nomor Urut 1
Pemilihan Ketua & Wakil Ketua OSIS
SMK Negeri 6 Purworejo
Masa Bakti 2026/2027

.jpg)
.png)
.png)
