Serba-serbi pemilihan
Wawancara eksklusif bersama Paslon 2

By Raden Dini Aprilia 29 Agu 2026, 08:10:50 WIB Kegiatan
Serba-serbi pemilihan

Gambar : Pasangan calon ketua dan wakil ketua OSIS nomor 2 masa bakti 2026/2027


Bukan Sekadar Membuat Program,

Amelia–Rizky

Ingin OSIS yang Tahu Apa yang Dibutuhkan Siswa

Menjadi ketua dan wakil ketua OSIS bukan hanya soal berdiri di depan, menyampaikan program, lalu memimpin berbagai kegiatan. Bagi Pasangan Calon (Paslon) Nomor 2, kepemimpinan justru dimulai dari hal yang lebih sederhana: mau mendengarkan.

Gagasan itu menjadi salah satu benang merah dalam wawancara eksklusif Tim Mading SMK Negeri 6 Purworejo bersama calon Ketua OSIS, Amelia Ananda Regita Saputri, siswi kelas XI Broadcasting 2, dan calon Wakil Ketua OSIS, Rizky Setyo Pamungkas, siswa kelas X TO 1.

Amelia secara terbuka mengatakan dirinya tidak maju karena merasa paling hebat atau paling pantas dibandingkan calon lainnya. Ia memilih maju karena memiliki kemauan untuk mendengarkan, belajar, dan bertanggung jawab.

“Saya ingin menjadi ketua OSIS yang tidak hanya membuat program, tetapi benar-benar membuat program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh siswa.”

Pernyataan tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan gagasan utama yang ia tawarkan: membuat OSIS lebih terbuka terhadap aspirasi sekaligus potensi siswa.

Mencari Potensi yang Belum Terlihat

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Amelia adalah masih adanya potensi siswa yang belum terlihat atau belum memiliki wadah yang sesuai.

Untuk menjawab persoalan itu, Paslon 2 menawarkan Student Potential Mapping (SPM), sebuah pemetaan minat, bakat, keterampilan, dan potensi siswa. Menurut Amelia, data dari pemetaan tersebut dapat membantu OSIS mengetahui bidang yang banyak diminati siswa, kemudian berkoordinasi dengan sekolah untuk menghadirkan wadah atau kesempatan yang sesuai.

Dengan kata lain, program OSIS diharapkan tidak lahir hanya dari asumsi pengurus, tetapi dari kebutuhan dan potensi nyata para siswa.

Namun, Amelia tidak ingin gagasan baru berarti harus menghapus semua program lama.

Jika terdapat program yang kurang populer tetapi sebenarnya bermanfaat, ia memilih untuk mencari tahu terlebih dahulu penyebabnya. Apakah program kurang menarik? Apakah waktunya tidak tepat? Atau manfaatnya belum benar-benar dirasakan siswa?

Baginya, program yang kurang diminati bukan otomatis program yang harus dihentikan. Evaluasi menjadi jalan tengah antara mempertahankan sesuatu yang bermanfaat dan tetap mendengarkan suara siswa.

Ketika Teman Salah, Tanggung Jawab Tetap Berjalan

Menjadi pemimpin di lingkungan sekolah tentu tidak selalu mudah. Terlebih ketika orang yang melakukan kesalahan adalah teman sendiri.

Amelia mengatakan ia tetap akan menegur teman yang melakukan kesalahan karena seluruh pengurus OSIS memiliki tanggung jawab yang sama. Namun, teguran tidak harus dilakukan dengan mempermalukan seseorang di depan umum.

Ia ingin memisahkan hubungan pertemanan dengan tanggung jawab organisasi.

“Teman tetap teman, tetapi ketika sudah menyangkut tentang kepentingan organisasi, saya harus tetap bersikap adil,” tegasnya. Bahkan, ia berharap dirinya juga berani ditegur ketika melakukan kesalahan.

Sikap tersebut berlanjut pada cara Amelia memandang sebuah keputusan. Jika pendapatnya ternyata salah, ia mengaku siap mengatakan bahwa dirinya salah.

Baginya, mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab dan kemauan untuk belajar.

Ketua dan Wakil Bukan Soal Siapa yang Paling Dominan

Di sisi lain, Rizky Setyo Pamungkas melihat posisi wakil ketua bukan sekadar pendamping ketua.

Ia ingin menjadi wakil yang aktif mendukung berbagai kegiatan OSIS. Lebih dari itu, menurutnya, wakil ketua merupakan partner yang ikut bertanggung jawab terhadap organisasi.

Ketika terdapat perbedaan pendapat, Rizky memilih menyampaikan pendapat dengan baik dan tetap menghargai keputusan yang telah disepakati bersama. Sementara Amelia menilai perbedaan pandangan antara ketua dan wakil merupakan hal yang wajar selama tidak menghambat kerja organisasi. Keduanya seharusnya saling melengkapi.

Pembagian peran tersebut juga terlihat dalam gagasan mereka mengenai kerja tim. Rizky ingin mengajak anggota berdiskusi dan membagi tugas berdasarkan kemampuan masing-masing. Ia juga menaruh perhatian pada satu hal yang sering kali luput: keluhan-keluhan kecil siswa yang kurang tersampaikan.

Targetnya Bukan OSIS yang Ramai, tetapi Berdampak

Pada akhirnya, Amelia tidak ingin ukuran keberhasilannya sebagai ketua hanya dihitung dari banyaknya program yang berhasil dibuat.

Ia ingin meninggalkan perubahan yang benar-benar dirasakan siswa: OSIS yang lebih terbuka, lebih dekat dengan siswa, serta mampu membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensinya.

“Satu periode kepemimpinan bukan tentang seberapa banyak program yang dibuat, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan dan dilanjutkan setelah masa kepemimpinan itu selesai.”

Sementara Rizky membawa target yang lebih sederhana namun konkret: ia ingin dikenal sebagai wakil ketua yang aktif dalam berbagai kegiatan OSIS.

Dari wawancara tersebut, Paslon Nomor 2 memperlihatkan satu pendekatan yang cukup jelas: mendengar sebelum memutuskan, memetakan sebelum menentukan arah, dan mengevaluasi sebelum menghapus.

Kini, gagasan tersebut berada di hadapan para siswa untuk dinilai. Bukan hanya seberapa menarik janji yang disampaikan, tetapi seberapa realistis gagasan itu diwujudkan dan seberapa jauh nantinya benar-benar dapat dirasakan oleh warga sekolah.


Liputan Eksklusif Tim Mading SMK Negeri 6 Purworejo
Mutia Anggraeni • Kharisma Putri Zahara • Syiva Permata Sari




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment